Sabtu, 09 Februari 2013

5 Senjaata Tradisional Di Nusantara


1. Kujang

Kujang (Sumber: blogspot.com,uniknya.com)

Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.


2. Keris

Keris (Sumber: parentingchildreninsingapore.com,uniknya.com)

 Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit.
Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

3. Sipet

Sipet (sumber: indonesiacountry.com,uniknya.com)

Sumpit atau lebih dikenal di daerah Kalimantan Tengah dengan sebutan sipet adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu. Dari segi penggunaannya sumpit atau sipet ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau sipet ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 meter.
Dilihat dari bentuknya sumpit, sumpit memiliki bentuk yang bulat dan memiliki panjang antara 1,5-2 meter, berdiameter sekitar 2-3 sentimeter. Pada ujung sumpit ini diolah sasaran bidik seperti batok kecil seperti wajik yang berukuran 3-5 sentimeter. Pada bagian tengah dari sumpit dilubangi sebagai tempat masuknya damek (anak sumpit). Pada bagian bagian atas sumpit lebih tepatnya pada bagian depan sasaran bidik dipasang sebuah tombak atau sangkoh (dalam bahasa Dayak). Sangkoh terbuat dari batu gunung yang lalu diikat dengan anyaman uei (rotan).

4. Rencong

Rencong (sumber: indonesia-tourism-info.com,uniknya.com)

Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri. Namun sekarang, setelah tak lagi lazim digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.
Desain rencong berbentuk kalimat bismillah,  seorang pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.

5. Salapu/Sonri

Salapu/Sonri (sumber: multiply.com,uniknya.com)

 Salapu adalah salah satu jenis senjata yang di sakralkan di daerah Bugis-Makassar. “Salapu” atau di daerah makassar dikenal dengan sebutan Sonri’ adalah salah satu perangkat kerajaan yang istimewa. bentuknya merupakan gabungan 3 jenis senjata yaitu, tappi’, badik dan tombak. beberapa sumber mengatakan bahwa sebutan Salapu berasal dari huruf arab yaitu “Alif” (alepu dalam bahasa bugis)yang mempunyai filosofi “tidak ada lawan”. sebagian juga mengatakan bahwa Salapu berasal dari bahasa bugis “Salipuri” yang artinya melindungi, filosofinya bahwa Salapu simbol kedaulatan, kemakmuran, dan kewibawaan suatu kerajaan.
 Konon di masa lampau seorang Raja tidak akan meninggalkan kerajaannya kalau tidak membawa Salapu. Sebagai perangkat kebesaran kerajaan, tentulah  salapu bersifat sangat eklusif, tidak sembarang orang boleh memilikinya bahkan para empu/panre disumpah untuk tidak membuat Salapu sekalipun duplikatnya.Ada hukum yang berlaku dimana bangsawan apalagi rakyat biasa tidak boleh meniru senjata-senjata raja/kerajaan. Salah satu contoh dalam sejarah kerajaan Bone pernah seorang panre/empu dibunuh ketika selesai membuat sebuah senjata, hal ini untuk menjaga eklusifitas senjata tersebut. (**)

uniknya.com

0 komentar:

Poskan Komentar